Dari Ruang Kreativitas Jadi Konten Kekerasan: Evolusi Roblox di Mata Pendidikan
![]() |
| Ilustrasi game Roblox (Ist.) |
JAKARTA, Soalnya.id - Nama Roblox kembali mencuat di Indonesia, namun bukan karena prestasi fiturnya, melainkan karena larangan resmi dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Padahal, platform yang didirikan oleh David Baszucki dan Erik Cassel ini memiliki sejarah panjang sebagai ruang kreativitas.
Resmi dirilis pada 2006, Roblox sebenarnya bukan sekadar game tunggal. Ia adalah platform sistem pembuatan permainan yang memungkinkan pengguna memprogram dan memainkan game karya orang lain menggunakan mesin Roblox Studio.
Saat pandemi Covid-19 melanda, Roblox menjadi "penyelamat" bagi jutaan anak di dunia untuk tetap berkomunikasi saat karantina wilayah. Statusnya sebagai tempat interaksi sosial membuat Roblox memiliki lebih dari 10 juta pemain aktif bulanan pada pertengahan 2020.
Namun, fleksibilitas platform ini bak pedang bermata dua. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menilai, kebebasan pengguna dalam membuat game justru banyak menyisipkan adegan kekerasan yang tidak layak konsumsi anak-anak.
“Kadang-kadang anak-anak ini tidak memahami bahwa yang mereka lihat itu kan sebenarnya sesuatu yang tidak nyata,” kata Mu’ti, Senin (4/8).
Mu’ti menyoroti intelektualitas anak-anak yang belum mampu membedakan fantasi dan realitas. Hal ini memicu kekhawatiran adanya aksi meniru kekerasan, seperti membanting teman, hanya karena sering melihatnya di dalam layar Roblox.
Soalnya.id memantau bahwa Roblox memang menyediakan ribuan genre permainan, mulai dari simulasi hingga rintangan. Namun, di balik keragaman tersebut, pemerintah mengendus adanya bahaya lain seperti susupan judi online. Inilah yang membuat pemerintah kini mengambil posisi berseberangan dengan platform yang sempat populer di masa pandemi tersebut.***
