Gen Z Buol dalam Cengkeraman Algoritma: Saat Bahasa Ibu Menunggu Upacara Pemakaman
Oleh: Ismajaya
![]() |
| Potret Isma Jaya, Ia menyoroti kontras antara dominasi budaya digital dan memori kolektif lokal yang kian terpinggirkan di Kabupaten Buol. (Foto: Ist) |
Di tengah euforia transformasi digital yang kita agung-agungkan, ada sesuatu yang diam-diam sedang sekarat di sudut rumah-rumah warga Buol. Ia tidak mati karena dentuman meriam. Ia tidak dibunuh oleh bencana alam. Ia sedang perlahan dihabisi oleh kelalaian kolektif kita sendiri, oleh rasa malu untuk menjadi lokal, dan oleh generasi yang jauh lebih akrab dengan "bahasa" algoritma media sosial dibanding bahasa tanah kelahirannya.
Bahasa ibu kita, Bahasa Buol, kini seolah-olah sedang mengantre di ruang tunggu sebuah upacara pemakaman.
Hari ini, pemandangan anak muda Buol yang menghafal istilah viral di TikTok atau fasih menirukan aksen dari drama luar negeri adalah hal lumrah. Namun, cobalah minta mereka berbicara menggunakan bahasa Buol. Banyak yang terbata-bata, tersenyum kecut karena malu, atau bahkan tidak mengerti sama sekali. Ini bukan sekadar pergeseran zaman yang biasa disebut "progresif". Ini adalah sinyal merah bahwa satu identitas budaya sedang berada di titik nadir kepunahan.
Ironisnya, proses peminggiran identitas ini terjadi tepat ketika institusi pendidikan kita sibuk bersolek merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kita terjebak dalam slogan-slogan besar tentang "kemajuan" dan "digitalisasi", namun abai pada satu pertanyaan fundamental: Pendidikan macam apa yang sedang kita bangun jika generasinya tumbuh tanpa mengenal akar budayanya sendiri?
Untuk apa anak-anak Buol dididik menjadi warga global jika pada saat yang sama mereka kehilangan "kunci" untuk memahami rumahnya sendiri?
Matinya Gengsi di Ruang Publik
Saat ini, Bahasa Buol mulai diperlakukan seperti barang antik yang usang—hanya pantas disimpan di museum, bukan dipakai di ruang tamu. Ia dianggap tidak bergengsi, tidak modern, dan tidak layak dipertontonkan di ruang publik. Secara sistematis, bahasa ibu didorong masuk ke ruang-ruang sunyi. Ia hanya terdengar dari mulut orang-orang tua di pelosok kampung, atau dalam seremoni adat yang frekuensinya pun kian jarang.
Bahasa daerah kini hanya menjadi sisa-sisa ingatan yang sebentar lagi akan ikut terkubur bersama usia para penuturnya. Yang menyedihkan, sekolah yang seharusnya menjadi benteng terakhir pelestarian budaya justru kerap menjadi ruang penyeragaman. Anak-anak didorong mengejar standar modernitas nasional yang kaku, sementara identitas lokal hanya ditempatkan sebagai "muatan lokal" yang bersifat pelengkap administrasi—bukan sebagai fondasi karakter.
Padahal, bahasa bukan sekadar deretan kosakata. Bahasa adalah cara manusia memandang dunia. Dalam Bahasa Buol, tersimpan kode etik sopan santun, filsafat menghormati orang tua, pengetahuan tentang harmoni alam, hingga memori kolektif masyarakat pesisir dan pegunungan yang diwariskan berabad-abad. Ketika bahasa itu hilang, maka yang ikut musnah adalah seluruh peradaban dan cara berpikir masyarakat Buol.
Penjajahan Algoritma: Musuh Tak Kasat Mata
Krisis ini bukan sekadar romantisme budaya yang cengeng. Kepunahan bahasa daerah adalah krisis identitas yang nyata. Generasi yang tercerabut dari akarnya adalah generasi yang mudah kehilangan arah. Mereka mahir menggunakan teknologi, tetapi rapuh dalam memahami siapa dirinya. Mereka secara fisik hidup di tanah Buol, tetapi pikirannya sepenuhnya "dijajah" oleh budaya luar yang dikonsumsi tanpa filter melalui layar gawai.
Inilah bentuk penjajahan baru yang jarang kita sadari: Penjajahan Algoritma.
Ia tidak datang membawa senjata atau merampas tanah. Ia datang membawa hiburan tanpa batas dan kemudahan akses. Ia merebut perhatian, mengendalikan cara berpikir, dan mendikte apa yang keren dan apa yang kuno. Algoritma media sosial bekerja jauh lebih efektif daripada nasihat guru atau orang tua. Ia membentuk selera kolektif yang membuat anak muda merasa memalukan jika masih menggunakan bahasa daerah. Dan yang paling mengerikan, proses "pembunuhan" budaya ini dilakukan secara sukarela oleh korbannya.
Menuntut Peran Nyata, Bukan Sekadar Upacara
Oleh karena itu, Hardiknas 2026 tidak boleh terjebak menjadi seremoni tahunan yang hanya memperbanyak baliho dan pidato formal. Pendidikan harus kembali pada khitahnya sebagai alat pembebasan budaya. Sekolah harus menjadi ruang yang menghidupkan identitas lokal, bukan malah mempercepat kematiannya.
Pemerintah Kabupaten Buol pun tidak bisa lagi bersikap pasif atau sekadar "pemadam kebakaran". Membuat festival budaya setahun sekali bukan berarti tugas pelestarian selesai. Kita butuh langkah konkret yang jauh lebih radikal: penguatan kurikulum bahasa daerah yang interaktif, produksi konten digital kreatif berbahasa Buol, hingga dokumentasi bahasa yang sistematis sebelum para penutur aslinya tiada.
Kita butuh anak muda yang bangga menciptakan karya digital—baik itu film pendek, konten edukasi, atau musik—dengan menggunakan Bahasa Buol sebagai identitasnya. Kita harus membawa bahasa daerah masuk ke ruang-ruang modern, bukan malah membiarkannya tertinggal di masa lalu.
Jika tidak ada langkah berani hari ini, maka beberapa tahun ke depan, Bahasa Buol mungkin hanya akan tersisa dalam naskah pidato pejabat di acara-acara seremonial. Ia tidak lagi hidup dalam tawa anak-anak di teras rumah atau dalam obrolan hangat di pasar-pasar.
Dan ketika hari itu tiba, sesungguhnya yang kita kuburkan bukan sekadar bahasa. Yang kita kuburkan adalah harga diri dan martabat kebudayaan masyarakat Buol. Sebelum upacara pemakaman itu benar-benar terjadi, masihkah kita punya keberanian untuk melawan arus algoritma ini?***
*) Ismajaya adalah seorang pemerhati sosial dan budaya yang aktif menyoroti isu-isu kearifan lokal di Sulawesi Tengah.
