BREAKING NEWS

Hardiknas 2026: Menagih Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Buol yang Tak Sekadar Seremoni

Oleh: Bakir A. Hi. Majo, S.Pd

Kabid Pembinaan Ketenagaan Disdikbud Buol, Bakir A. Hi. Majo, S.Pd, saat menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia di Kabupaten Buol melalui penguatan fondasi pendidikan.

Setiap tanggal 2 Mei, kita rutin mengenakan seragam kebesaran, berdiri di lapangan upacara, dan mendengarkan pidato-pidato tentang kejayaan literasi. Namun, pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 ini, kita perlu bertanya dengan jujur ke dalam diri sendiri: Apakah semua keriuhan ini telah benar-benar menyentuh akar persoalan di ruang-ruang kelas kita di pelosok Kabupaten Buol?

Hardiknas seharusnya bukan sekadar rutinitas kalender yang terjebak pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, hari ini adalah cermin besar tempat kita melihat kembali wajah pendidikan di daerah tercinta ini. Pendidikan adalah pondasi tunggal. Tanpanya, cita-cita kita untuk mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan kompetitif hanya akan menjadi narasi indah tanpa isi.

Mendefinisikan Kembali "Partisipasi Semesta"

Tahun ini, kita mengusung semangat yang sangat kuat: "Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua". Kalimat ini bukan slogan tanpa makna. "Semesta" di sini berarti keterlibatan menyeluruh—sebuah sinergi yang tidak boleh lagi terkotak-kotak.

Selama ini, ada stigma yang seolah-olah meletakkan beban pendidikan 100% di pundak guru dan pemerintah. Padahal, pendidikan yang inklusif dan berkualitas hanya bisa lahir jika ada jembatan komunikasi yang kokoh antara sekolah, orang tua, dan masyarakat luas. Di Kabupaten Buol, tantangan geografis dan aksesibilitas seringkali menjadi kendala, namun dengan partisipasi semesta, kendala teknis itu seharusnya bisa kita mitigasi bersama.

Pemerintah daerah memang memiliki tanggung jawab regulasi dan fasilitas, namun orang tua adalah guru pertama di rumah, dan masyarakat adalah laboratorium sosial bagi anak-anak kita. Jika salah satu dari elemen ini absen, maka pincanglah proses pembentukan karakter generasi kita.

Apresiasi untuk Para Pejuang Literasi di Garis Depan

Dalam refleksi ini, saya ingin memberikan ruang khusus bagi apresiasi terdalam kepada para rekan sejawat: para guru dan tenaga pendidik di seluruh penjuru Kabupaten Buol.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak guru di daerah kita tetap mengabdi dengan dedikasi penuh meskipun dihadapkan pada keterbatasan sarana. Mereka adalah ujung tombak yang paling menentukan apakah kurikulum itu bernyawa atau hanya menjadi tumpukan kertas. Tugas kami di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) adalah memastikan ketenagaan ini terus terbina dan mendapatkan dukungan yang layak demi mencerdaskan generasi bangsa.

Menuju Generasi Emas: Inklusivitas dan Relevansi

Masa depan tidak lagi meminta anak-anak kita sekadar pandai menghafal. Tantangan global menuntut mereka memiliki nalar kritis dan adaptabilitas terhadap teknologi yang bergerak secepat kilat. Oleh karena itu, arah pendidikan di Buol harus makin maju dan inklusif. Tidak boleh ada satu pun anak di daerah ini yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi atau keterbatasan akses.

Pendidikan bermutu adalah hak semua warga Buol, bukan privilese segelintir orang. Kita sedang menyiapkan mereka untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Waktu dua dekade bukanlah waktu yang lama dalam sejarah pembangunan manusia. Apa yang kita tanam di ruang-ruang kelas hari ini, itulah yang akan kita panen saat Kabupaten Buol dipimpin oleh mereka kelak.

Penutup: Sebuah Ajakan Berefleksi

Melalui momentum Hardiknas 2026 ini, saya mengajak semua pihak—dari jajaran birokrasi hingga warga di desa-desa—mari kita jadikan pendidikan sebagai urusan bersama. Jangan biarkan guru berjuang sendirian di kelas, jangan biarkan pemerintah bekerja tanpa pengawasan dan dukungan masyarakat, dan jangan biarkan anak-anak kita merasa bahwa sekolah hanyalah tempat mencari ijazah.

Mari kita berkolaborasi. Mari kita tingkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Buol dengan semangat kekeluargaan dan profesionalisme. Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas manusia-manusia yang lahir dari sistem pendidikannya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari bergerak, untuk pendidikan Buol yang lebih bermutu bagi semua.***

*) Penulis adalah Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buol.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar