Ilmu Setinggi Langit, Ego Seujung Kuku: Cara Radikal KH Ahmad Dahlan Meruntuhkan Keangkuhan Intelektual Para Ulama
![]() |
| KH Ahmad Dahlan dalam sebuah potret legendaris. Lebih dari sekadar pendiri organisasi, ia adalah diplomat ukhuwah yang tak segan menegur keangkuhan intelektual demi persatuan. (Ist.) |
Ilmu Setinggi Langit, Ego Seujung Kuku: Cara Radikal KH Ahmad Dahlan Meruntuhkan Keangkuhan Intelektual Para Ulama
Bayangkan sebuah ruangan yang pengap oleh aroma buku tua, namun lebih pengap lagi oleh ketegangan yang menggantung di udara. Di sana, sembilan orang pria berjubah, para pemilik otoritas keagamaan di Jombang, duduk melingkar. Bukannya saling melempar senyum atau berbagi kehangatan, mereka justru sibuk memasang pagar pembatas. Masing-masing merasa paling benar, paling alim, dan paling berhak menentukan syarat untuk sebuah kata bernama "bersatu".
Di tengah kepungan ego yang meruncing itu, duduklah seorang pria dengan sorban bersahaja. Namanya KH Ahmad Dahlan. Ia tidak datang untuk menambah riuh perdebatan tentang isi kitab kuning atau tafsir yang rumit. Ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana namun mematikan bagi kesombongan: sebuah cermin besar bagi jiwa.
Membongkar Mitos Kelembutan Sang Pencerah
Selama ini, narasi sejarah kita sering kali "mengawetkan" sosok Kyai Dahlan sebagai figur yang melulu lembut, sabar, dan penuh toleransi. Gambaran itu memang sahih, namun ia tidak lengkap. Jika kita membuka kembali lembaran Majalah Adil No. 5 tertanggal 29 Oktober 1938, kita akan menemukan dimensi lain yang lebih tajam dan reflektif.
Melalui kesaksian sahabatnya, R. Sosrosoegondo, kita melihat Kyai Dahlan sebagai seorang "arstitek" persatuan yang punya keberanian moral untuk melakukan pembedahan terhadap penyakit hati para kaum intelektual di zamannya. Ia adalah jembatan, tapi jembatan yang kokoh dan tak ragu menggetarkan mereka yang berjalan di atasnya dengan langkah sombong.
Misi Kyai Dahlan ke Jombang kala itu bukanlah perjalanan wisata dakwah biasa. Ia mendengar ada perpecahan hebat. Para tokoh agama terjebak dalam faksi-faksi yang saling mengunci. Bukannya menjadi pelita, mereka justru menjadi tembok yang memisahkan umat dari kedamaian.
Diplomasi Air Mata di Hadapan Sembilan Ulama
Kyai Dahlan memulai dengan pendekatan yang sangat manusiawi. Ia mengumpulkan mereka dalam satu ruangan. Tanpa gaya menggurui, ia berpidato dengan suara yang bergetar oleh ketulusan. Mengutip ayat-ayat suci, ia menyerukan agar para penjaga agama ini kembali "memegang tali Allah".
Beliau menangis. Ia menyesalkan mengapa mereka yang paham hukum Tuhan justru menjadi pihak pertama yang melanggarnya dengan saling membenci. Namun, alih-alih tersentuh, atmosfer ruangan justru berbalik menjadi ajang "pamer kekuatan".
Satu per satu ulama itu berdiri. Bukan untuk berpelukan, melainkan untuk mengutip berbagai kitab secara mendalam demi membela pendapat kelompoknya sendiri. Seolah-olah ruangan itu berubah menjadi medan perang intelektual di mana pelurunya adalah dalil. Puncaknya, ulama ketiga berdiri dengan dagu terangkat, mengeluarkan pernyataan yang menjadi puncak keangkuhan intelektual:
"Jika kawan-kawan ulama setuju dengan apa yang saya terangkan, saya mau bersatu. Karena apa yang saya kemukakan ini memang mutlak, tidak boleh dibantah!"
Sebuah syarat persatuan yang aneh: "Saya mau bersatu, asal kalian jadi saya."
![]() |
| Kliping salah satu artikel tentang KH. Ahmad Dahlan (Ist.) |
Sentilan Maut: Kritik yang Menghujam Jantung
Di sinilah letak kecerdikan Kyai Dahlan. Ia tetap tenang, menyimak setiap kata seolah-olah itu adalah musik yang merdu, padahal ia sedang mencatat betapa rapuhnya fondasi pemikiran mereka. Ketika tiba gilirannya bicara, ia tidak membalas dengan dalil yang lebih panjang. Ia justru menggunakan logika sederhana yang menghancurkan seluruh bangunan argumen para ulama tersebut.
Dengan nada tenang namun sangat dingin, Kyai Dahlan berkata:
"Kyai, melihat pidato Anda tadi, ternyata Anda memang sangat alim. Justru itulah yang membuat saya sangat menyesal. Seandainya saya memiliki ilmu setinggi Anda, saya akan menganggap urusan menyatukan sembilan orang ini sebagai perkara yang sangat ringan."
Kalimat itu seketika membungkam ruangan. Itu bukan pujian; itu adalah sindiran maut. Kyai Dahlan ingin menegaskan sebuah paradoks: untuk apa punya ilmu setinggi langit jika untuk menurunkan sedikit ego guna menyatukan sembilan kepala saja Anda merasa tidak mampu?
Ilmu yang tidak mampu melahirkan persatuan, di mata Kyai Dahlan, adalah ilmu yang gagal fungsi.
Fenomena "Engklek": Ketika Ilmu Menjadi Pincang
Seorang dokter yang juga keponakan Kyai Dahlan, yang saat itu ikut menyaksikan momen tersebut, hanya bisa terpana. Ia melihat bagaimana pamannya "menyembelih" kesombongan tanpa harus bersikap kasar. Munculah istilah "Engklek" (pincang atau lumpuh) untuk menggambarkan para ulama tersebut.
Istilah ini sangat relevan hingga hari ini. "Ulama Engklek" adalah mereka yang secara teoritis sangat fasih, hafal luar kepala berbagai literatur, namun cacat dalam kearifan bertindak. Mereka memiliki "kaki" intelektual yang kuat untuk berlari di ranah teori, namun "kaki" sosial mereka lumpuh untuk melangkah menuju perdamaian.
Bagi Kyai Dahlan, ukuran kehebatan seseorang bukan terletak pada berapa banyak kitab yang ia lahap, melainkan seberapa besar ilmu itu bisa menjadi jembatan bagi kemaslahatan masyarakat.
![]() |
| Logo majalah Toentoenan Hidup yang mendokumentasikan sejarah KH. Ahmad Dahlan |
Warisan yang Lebih Besar dari Organisasi
Sering kali kita terjebak memuja Muhammadiyah hanya sebagai organisasi raksasa dengan ribuan sekolah dan rumah sakit. Padahal, warisan terdalam KH Ahmad Dahlan adalah keberanian moral untuk meruntuhkan tembok-tembok sektarian.
Wasiatnya kepada H. Soedja menjadi pengingat abadi: "Dekatilah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya... sehingga perkenalan kita bertimbal balik, sama-sama memberi dan sama-sama menerima."
Kyai Dahlan mengajarkan bahwa ukhuwah (persaudaraan) tidak butuh keseragaman, tapi butuh kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran milik Tuhan tidak boleh disandera oleh tafsir tunggal manusia.
Kini, di era di mana perdebatan di media sosial sering kali terasa seperti ruangan pengap di Jombang tempo dulu—penuh dengan orang pintar yang sibuk merasa paling benar—sosok "Sang Jembatan" ini menjadi semakin relevan. Tugas kita bukan sekadar mengagumi fotonya yang terbingkai di dinding, melainkan memastikan bahwa ilmu yang kita miliki tidak membuat langkah kita menjadi "engklek" dalam mencintai sesama manusia.
Karena pada akhirnya, persatuan adalah ujian sesungguhnya bagi setiap orang yang mengaku berilmu. Dan Kyai Dahlan telah lulus ujian itu dengan cara yang paling elegan.***


