Pandu Sjahrir Ungkap Tiap Unit Pembangkit Listrik Sampah Telan Rp2,7 Triliun, 100 Investor Antre
![]() |
| Proyek PSEL yang melibatkan investor global dan mitra teknologi |
JAKARTA, Soalnya.id - Megaproyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dicanangkan pemerintah membutuhkan napas pendanaan yang sangat panjang. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa total investasi untuk membangun 33 unit PSEL diperkirakan mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp89,2 triliun.
Besarnya angka tersebut membuat tiap unit fasilitas pengolahan sampah ini menelan biaya rata-rata US$150 juta, atau mendekati angka Rp2,7 triliun per unitnya. Pandu menegaskan, pembiayaan ini tidak akan ditanggung sepenuhnya oleh Danantara, melainkan melalui kolaborasi dengan investor dan pemilik teknologi terbaik.
"Sudah hampir 100 lebih yang mendaftar. Tahap kedua akan kita buka sebentar lagi untuk mencari partner-partner terbaik," ujar Pandu Sjahrir saat ditemui Soalnya.id di Jakarta, Senin (11/5).
Pandu menyadari bahwa tingginya kebutuhan modal menjadi alasan mengapa proyek serupa kerap berjalan lambat di masa lalu. Namun, dengan keterlibatan Danantara sebagai lembaga investasi, hambatan finansial diharapkan dapat teratasi melalui skema kemitraan yang lebih solid.
Selain urusan modal, Pandu menekankan pentingnya kepastian pasokan sampah dari daerah. Proyek berbiaya triliunan ini hanya akan efisien jika daerah mampu menjamin pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari secara kontinu. Tanpa jaminan bahan baku, fasilitas mahal ini berisiko menjadi "monumen" tak berguna.
Danantara saat ini tengah melakukan proses kurasi ketat terhadap para pendaftar. Targetnya, pada tahap kedua nanti, pemerintah sudah bisa menentukan mitra teknologi yang paling cocok dengan karakteristik sampah di Indonesia yang cenderung basah dan tidak terpilah. Langkah ini diambil agar investasi Rp2,7 triliun per unit tersebut benar-benar menghasilkan listrik yang kompetitif bagi jaringan nasional.
