Iklan Lempar.id
IKLAN (SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA)
BREAKING NEWS

Bukan Potong Aspal Tapi Mencongkel: Proyek Jalan Nasional Rp16 Miliar di Buol Diduga Pakai Metode Asal-Asalan

Kondisi tepi galian perbaikan (patching) jalan nasional Buol-Lakuan yang tampak compeng dan tidak beraturan akibat dibongkar menggunakan bucket ekskavator tanpa pemotongan vertikal awal. (Soalnya.id)

BUOL, Soalnya.id - Langkah awal proyek Preservasi Jalan Buol-Lakuan-Laulalang-Lingadan senilai Rp16.845.066.545,00 memicu alarm bahaya teknis. Bukannya dipotong dengan rapi menggunakan mesin asphalt saw cutter agar struktur di sekitarnya tetap terjaga, lapis perkerasan jalan nasional ini justru dibongkar menggunakan bucket ekskavator.

Hasil pantauan lapangan wartawan Soalnya.id menunjukkan dampak dari penggunaan alat berat tersebut di beberapa lokasi kerja. Tepi lubang galian tampak compeng, pecah-pecah, dan tidak beraturan. Metode pencongkelan ini bahkan tidak hanya menyasar area rusak, tetapi juga diduga meretakkan aspal sehat di sekitarnya akibat tekanan masif roda rantai besi dan kuku ekskavator.

Ketebalan galian pun menjadi tidak seragam dan bergelombang, mengikuti pola hantaman alat berat. Tidak adanya penggunaan alat ukur elevasi (leveling) yang presisi di lokasi selama proses pengerukan terindikasi memicu terjadinya deviasi konsistensi kedalaman galian di lapangan.

"Saya gali berdasarkan tingkat kerusakan, ada galian dalam ada juga yang tidak terlalu dalam, ini instruksi konsultan pengawas untuk menghindari rembesan air dari drainase," ujar Slamet, salah satu operator di lapangan saat ditemui media ini, (14/5).

Salah satu temuan dari sekian galian/bonkaran yang di duga tidak sesuai spesifikasi (Soalnya.id)

Aset Daerah Jadi Korban Sampingan Proyek Pusat

Metode kerja yang ditengarai kurang memperhatikan aspek proteksi lingkungan sekitar ini terbukti membawa dampak buruk yang meluas ke fasilitas publik lainnya. Ayunan bucket ekskavator yang kurang akurat berulang kali menghantam konstruksi taman median jalan di sepanjang jalur Trans Sulawesi Kabupaten Buol.

Taman median pembatas jalan yang baru selesai dibangun sekitar setahun lalu oleh Pemkab Buol itu kini kondisinya terkelupas di sejumlah titik. Lapisan plesterannya ditemukan pecah dan hancur akibat benturan dari moncong alat berat milik kontraktor pelaksana, PT Surya Lima Perkasa.

Hancurnya aset estetika kota ini memicu kekecewaan warga yang melintas. Proyek nasional bernilai belasan miliar rupiah yang bersumber dari APBN 2026 tersebut dinilai mengabaikan etika konstruksi berdampingan dan berpotensi merugikan investasi infrastruktur yang telah dialokasikan oleh Pemda setempat.

Temuan salah satu dari sekian titik median jalan yang diduga kuat rusak akibat bucket excavator (Soalnya.id)

Dalih Kecepatan Kerja di Balik Pelanggaran Prosedur

Saat dimintai kejelasan di lokasi proyek, Aziz selaku perwakilan Konsultan Pengawas dari PT Nusvey (KSO) memilih menyerahkan penjelasan teknis kepada pengawas dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah bernama Jupri. Menurut Aziz, pihak BPJN-lah yang lebih memahami dinamika pekerjaan tersebut.

Jupri selanjutnya secara implisit mengakui penggunaan ekskavator ditujukan untuk mengejar progres fisik secara instan di lapangan. "Jika dilakukan seperti itu (menggunakan metode pemotongan konvensional yang rigid), pekerjaan akan selesai lama," jelasnya saat dikonfirmasi terkait tiadanya mesin asphalt cutter di area pembongkaran, 21 Mei 2026.

Jawaban ini tentu terkesan memaklumi langkah kontraktor dalam memangkas tahapan metode kerja. Namun, Jupri juga sempat menambahkan bahwa hal tersebut sepenuhnya merupakan keputusan teknis dari pihak kontraktor pelaksana di lapangan.

Kontraktor ketika dikonfirmasi juga tidak menampik bahwa sesuai kontrak pekerjaan seharusnya menggunakan asphalt cutter dalam proses pemotongan perkerasan jalan. Namun, pemilihan metode menggunakan excavator disebut dilakukan dengan pertimbangan percepatan penyelesaian pekerjaan.

Investigasi menemukan berbagai titik kerusakan baru di jalan yang dikerjakan, akibat penggunaan bucket excavator dan gilasan rantai besi roda alat berat (Soalnya.id) 

Menurut pelaksana lapangan, penggunaan excavator justru dinilai lebih mahal dari harga satuan dibandingkan dengan metode asphalt cutter. Kendati demikian, kontraktor juga mengakui mesin manual prosesnya akan memakan waktu lebih lama dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih banyak. 

Pernyataan ini kemudian memunculkan kontradiksi dan pertanyaan publik mengenai aspek mana yang sebenarnya lebih mahal, serta mana yang lebih diprioritaskan antara keuntungan pelaksanaan proyek atau kualitas hasil pekerjaan jangka panjang.

Padahal, berdasarkan dokumen Spesifikasi Umum Bina Marga, metode square cut (potongan kotak tegak lurus) dengan dinding galian yang kokoh dan vertikal merupakan prosedur yang diwajibkan untuk pekerjaan perbaikan perkerasan (patching). Tanpa adanya dinding vertikal yang stabil sebagai batasan penahan, material penutup baru akan sulit mendapatkan ikatan pengunci (interlocking) yang optimal.

Dampaknya, gaya pengereman serta beban statis dari kendaraan logistik bermuatan berat yang melintasi jalur Trans Sulawesi ini diduga akan menjadi bom waktu. Metode tanpa potongan rapi ini berisiko tinggi membuat sambungan aspal baru tersebut meliuk, bergeser, dan mengalami kerusakan dini dalam hitungan bulan ke depan.

Redaksi Soalnya.id tidak dalam posisi menyimpulkan adanya pelanggaran teknis dalam kasus ini. Seluruh dugaan yang berkembang masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui mekanisme resmi, baik audit teknik maupun proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar