Jejak 'Ayam Fiktif' di Lilito Paleleh: Anggaran Lunas, Realisasi Fisik Menyeberang Tahun
![]() |
| Kolase Foto Kades Lilito Samerdan Manggi dan Ilustrasi Ayam Petelur (Ist.) |
BUOL, Soalnya.id – Program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa (DDS) Tahun Anggaran 2025 di Kecamatan Paleleh kini memantik sorotan tajam. Di Desa Lilito, proyek pengadaan ayam petelur senilai Rp80 juta yang diplot untuk kesejahteraan warga, hingga pertengahan Juli 2026 belum juga terlihat fisiknya alias fiktif di lapangan.
Kondisi ini memicu keresahan warga lokal. Mereka mempertanyakan realisasi anggaran negara yang sudah lama cair, namun objek pengadaan tak kunjung tiba hingga menyeberang tahun anggaran.
"Barangnya (ayam) belum ada, sementara yang kami tahu uangnya sudah lama dicairkan. Kami juga tidak tahu apa masalahnya, mungkin Pak Kades yang lebih tahu," ujar salah seorang warga dengan nada heran kepada Soalnya.id, Senin (13/7).
Kades Mengaku Sudah Bayar, Sebut Nama Ronal dan Camat
Kepala Desa Lilito, Samerdan Manggi, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa ratusan ekor bibit ayam petelur tersebut belum ada di desanya. Meski barangnya belum tiba, Samerdan mengaku pemerintah desa justru sudah melunasi pembayaran kepada pihak ketiga, sementara pengiriman terus-menerus ditunda.
"Kalau soal pengadaan ayam sudah kita bayarkan, kandangnya juga sudah ada. Untuk ayamnya dijanjikan datang setelah Lebaran Haji. Saya juga kurang tahu apa kendalanya. Yang tahu itu Ronal (pihak penyedia) dan Pak Camat," kata Samerdan blak-blakan.
Kejanggalan proyek ketahanan pangan ini makin menganga saat ditelusuri terkait aspek legalitas administrasinya. Samerdan secara mengejutkan menyatakan bahwa proyek bernilai puluhan juta ini berjalan tanpa dokumen hitam di atas putih.
"Tidak ada kontraknya," aku sang Kades lugas.
![]() |
| Onal alias Ronal pelaksana pihak penyedia CV Azzam Mandiri Sukses asal gorontalo (Ist.) |
Nyanyian Penyedia: 'Nota Pesanan dan LPJ Itu Urusan Pak Camat'
Di tempat terpisah, Ronal (sosok yang ditunjuk sebagai penyedia) mengelak disebut sebagai penanggung jawab utama. Ia berdalih hanya bertugas sebagai pelaksana lapangan di Paleleh, sedangkan penyedia resmi adalah kakaknya sendiri, Ismail Gobel, selaku Direktur CV Azzam Mandiri Sukses yang berbasis di Gorontalo.
"Ayamnya dari kakak saya di Gorontalo, Ismail Gobel. Saya di sini hanya pelaksana," cetus Ronal sambil memperlihatkan brosur perusahaan.
Terkait mandeknya distribusi ayam yang menyeberang tahun anggaran ini, Ronal beralasan bahwa komoditas yang dipesan membutuhkan waktu persiapan dan penyesuaian kandang.
"Kami sudah sampaikan ke kepala desa bahwa ayam-ayam ini belum cukup umur, bukan DOC (Day Old Chick). Ini bukan seperti membeli ayam di pasar. Ada proses persiapan sebelum didistribusikan," kilahnya.
Menariknya, Ronal justru "bernyanyi" mengenai peran sentral Camat Paleleh, Lukman. Ia mengaku buta soal urusan administrasi dan kontrak karena seluruh dokumen pelaporan hingga manajemen proyek di-backup penuh oleh sang Camat.
"Kalau soal kontrak saya tidak tahu, karena yang memediasi itu Pak Camat. Sebelumnya memang ada kesepakatan. Soal nota pesanan dan pelaporan LPJ itu urusan Pak Camat, karena kami lebih fokus pada pengadaan ayam. Beliau yang backup kami," bongkar Ronal.
Ia juga membeberkan fakta bahwa pada proyek ketahanan pangan 2025 ini, perusahaannya berusaha memonopoli suplai ayam petelur di Kecamatan Paleleh melalui Camat, dan terelisasi lima desa, yakni Desa Lilito, Paleleh, Tolau, Pionoto, dan Dopalak dengan kisaran anggaran Rp500 juta.
Camat Membantah, Tapi Klaim Kontrak Ada di Tangannya
Mendapat tudingan miring dari Kades dan pihak penyedia, Camat Paleleh, Lukman, langsung pasang badan. Ia membantah keras telah mengintervensi atau ikut campur dalam sengkarut pengadaan ayam petelur di Desa Lilito.
Lukman mengklaim, dari 5 desa yang disuplai oleh CV Azzam Mandiri Sukses, dirinya hanya memfasilitasi 4 desa di luar Lilito.
"Betul saya arahkan, karena camat memang bagian dari tim fasilitasi untuk mengarahkan kegiatan ketahanan pangan, apalagi orientasinya peternakan. Yang saya mediasi hanya empat desa, kemudian saya arahkan ke pengusaha, alhamdulillah semuanya sukses," sanggah Lukman saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/7).
Khusus untuk Desa Lilito, Lukman melemparkan tanggung jawab balik kepada Kades dan penyedia dengan alasan adanya hubungan kekerabatan.
"Kalau Desa Lilito mereka langsung, karena pengusahanya masih keluarga mereka. Saya tidak ikut campur," tegasnya.
Kendati mengaku tidak ikut campur, Lukman justru mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang dengan pengakuan Kades Samerdan dan Ronal terkait ketiadaan berkas pengadaan. Camat Paleleh ini bersikeras bahwa dokumen kontrak itu ada, bahkan fisik dokumennya ia kuasai sendiri.
"Desa Lilito kontraknya ada. Kontraknya ada sama saya, nanti saya kirim lewat WhatsApp," klaim Lukman.
Saling silang keterangan antara Kepala Desa, pihak ketiga, dan Camat Paleleh mengenai keberadaan kontrak serta mekanisme pengadaan ini mengindikasikan adanya tata kelola yang bobrok pada program ketahanan pangan Dana Desa 2025. Hingga laporan investigasi ini diturunkan, kandang ayam di Desa Lilito masih tetap kosong melongpong, menyisakan misteri ke mana aliran dana yang telah dicairkan sejak tahun lalu. **RM2

.jpg)