Iklan Soalnya.id
IKLAN (SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA)
BREAKING NEWS

Bongkar Aspal Pakai Excavator dan Cor Yang Terputus di Proyek Rp3,3 M Buol

Kondisi pengecoran saluran plat decker Jalan Batalipu yang terhenti di tengah jalan akibat kehabisan material. Tampak tulangan besi terbiarkan terbuka tanpa penanganan standar konstruksi serta galian tanpa asphalt cutter (Foto: Soalnya.id)

BUOL, Soalnya.id - Pelaksanaan proyek pemeliharaan berkala Jalan Batalipu senilai Rp3,33 miliar oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Buol kembali memperlihatkan indikasi pelanggaran metode teknis di lapangan.

Di luar masalah deviasi minus dan pengabaian alat keselamatan pekerja, pengerjaan fisik proyek CV. Aspal Jaya Perkasa ini terindikasi menabrak Spesifikasi Umum Bina Marga untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan.

Kehabisan Material, Pengecoran Terputus dan Alasan Overlay Kadis

Indikasi pertama terlihat pada dugaan pelanggaran prosedur yang terjadi pada pengerjaan struktur beton plat decker. Pengecoran lajur kedua sepanjang sekitar 10 meter terhenti mendadak di kisaran 8 meter dengan kondisi tulangan besi terbiarkan terbuka, hanya karena kontraktor kehabisan material. "Material habis," ungkap seorang pekerja di lokasi proyek (26/7).

Penghentian pengecoran beton struktur di luar perencanaan construction joint tersebut berpotensi menciptakan cold joint (sambungan dingin). Hal ini membuat struktur beton retak dan tidak menyatu secara utuh (monolitik). Jeda pengecoran boleh dilakukan hanya jika sejak awal direncanakan dengan syarat teknis yang ketat.

"Tidak apa-apa menurut Kadis, nanti di sambung saja pengecorannya" sambung pekerja tersebut.

Dikonfirmasi tentang tanggung jawab pengecoran putus tiba-tiba tanpa perencanaan dan manajemen material ini, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sekaligus Kepala Dinas PUPR Buol, Darsyad, hanya memastikan cor sudah dilakukan kembali. "Sudah di cor, itu sudah dicor itu, sudah dicor. Sudah selesai dicor. Karena memang malam itu habis, pasirnya kalau tidak salah, eh tidak lanjut," terangnya (27/7).

Tak berhenti di situ, proses pembongkaran aspal eksisting untuk saluran plat decker juga diduga bermasalah dan terkesan ugal-ugalan. Pantauan langsung tim Soalnya.id menunjukkan pemotongan aspal di sisi galian tidak menggunakan alat pemotong khusus (asphalt cutter), melainkan dihantam langsung menggunakan bucket excavator.

Akibatnya, pinggiran kupasan aspal pecah bergerigi, diduga berpotensi menimbulkan retak baru dan menyisakan sebagian rongga kosong di bawah lapisan perkerasan lama. Kondisi ini berpotensi memicu ambles atau retak buaya di kemudian hari.

Mengenai kondisi pinggiran aspal pecah di lokasi proyek, Darsyad, mengklaim pengerjaan tersebut masih dalam batas wajar. "Iya kan ditutup ini nanti dengan aspal," jelas Darsyad.  

"Nanti kan itu di-overlay semua, nanti kalau sudah selesai struktur bawahnya baru dirapikan kembali," terang PPK.

Diduga Abaikan Kaidah Teknis Konstruksi

Namun, pembelaan teknis PPK tersebut terindikasi bertolak belakang dengan kaidah manajemen mutu konstruksi Bina Marga. Overlay aspal dari atas tidak akan menyelesaikan masalah rongga di bawah perkerasan lama maupun retakan cold joint pada beton struktur yang terlanjur terbentuk di bawahnya.

Sikap permisif PPK terhadap penyedia, CV. Aspal Jaya Perkasa, mempertegas lemahnya pengawasan teknis Dinas PUPR Buol. Jika metode pengerjaan seakan asal-asalan ini terus dibiarkan, proyek akses perkantoran senilai Rp3,33 miliar ini terancam mengalami kerusakan struktur sebelum masa pemeliharaan berakhir. **RY

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar
Konten Dilindungi Hak Cipta!