Dapur MBG Doulan Resmi Di-Suspend, BGN Masih Pakai Istilah 'Gangguan Pencernaan'
![]() |
| Kolase foto, Tuho Nisman Laia (kiri), dan anak-anak sekolah dasar yang menerima perawatan di Puskesmas Bokat pasca menyantap hidangan MBG (kanan). (Foto: Ist.) |
BUOL, Soalnya.id – Buntut dugaan keracunan yang menimpa belasan siswa SD di Kecamatan Bokat setelah menyantap hidangan MBG, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah penanganan dengan menghentikan sementara (suspend) operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Doulan.
Kendati demikian, Korwil BGN Kabupaten Buol, Tuho Nisman Laia memilih ekstra hati-hati menyimpulkan penyebab utama gangguan pencernaan massal dengan korban hingga belasan anak ini, apakah keracunan makanan atau karena alasan medis lainnya.
BGN memilih diksi halus sambil menegaskan pihaknya enggan berspekulasi ada keracunan makanan hingga mendahului proses investigasi ilmiah dan olah TKP yang tengah berjalan. "Mohon maaf Pak, mengenai insiden gangguan pencernaan di Bokat beberapa hari yang lalu saat ini kami dari BGN belum bisa banyak berkomentar," kata Tuho, Minggu (2/8).
"Karena sejak olah TKP yang dilakukan satgas kabupaten melalui tim Dinkes dan pemeriksaan oleh Polres, belum ditarik kesimpulan kalau penyebabnya adalah karena MBG," sambungnya melalui pesan WhatsApp.
Menurut Tuho, BGN memilih berpatokan penuh pada hasil analisis epidemiologi serta pemeriksaan sampel laboratorium resmi yang ditangani Dinas Kesehatan Kabupaten Buol bersama aparat gabungan.
"Hasil epidemiologi dan uji sampel makanan di laboratorium juga belum keluar. Jadi kami masih menunggu hasil tersebut dari Dinkes," jelasnya.
SPPG Doulan Di-Suspend Sambil Menunggu Uji Lab
Lebih lanjut kami menanyakan terkait langkah yang diambil pihak BGN terhadap SPPG di tengah penantian hasil uji medis tersebut, menurut Tuho BGN mengambil langkah penghentian sementara aktivitas dapur SPPG Doulan.
"Untuk sementara SPPG kami suspend sampai hasil laboratorium keluar, Pak," ujar Tuho di jawaban pesan singkat selanjutnya.
Ia menambahkan, kelanjutan operasional penyedia makanan tersebut akan sangat bergantung pada hasil laboratorium dari Kota Palu serta mekanisme pengawasan internal BGN.
"Kalau memang itu karena MBG, tentunya suspend akan diteruskan sampai SPPG melakukan pembenahan yang diawasi oleh Kedeputian Tauwas (pemantauan dan pengawasan) BGN. Namun, bila penyebabnya bukan karena MBG, SPPG akan kami operasionalkan kembali seperti biasa," terang Tuho.
Keputusan akhir mengenai nasib dan kebijakan teknis SPPG Doulan selanjutnya masih menanti komando dari struktur BGN di tingkat provinsi.
"Namun, perubahan kebijakan seperti apa nantinya itu kami juga menunggu instruksi dari KPPG di Palu," tandasnya.
Langkah suspend terhadap SPPG Doulan ini setidaknya menjadi sinyal awal mitigasi di lapangan. Namun, kurangnya informasi yang dibuka sejak awal serta lambannya kepastian uji laboratorium yang membutuhkan waktu hingga lima hari, memantik tanda tanya publik: sejauh mana transparansi BGN dan Pemkab Buol dalam mengusut tuntas kasus ini hingga ke akarnya? **RY
.jpg)